Adara Oxford Heels: Adara Oxford Heels by Emiwest. Oxford heels with beige color and almond toe accent, stitching details, laces with same color, made from synthetic patent leather, brown heels. Oxford heels provide a sexy or preppy look.
Find this cool stuff here: http://zocko.it/LDzD4
Berbagi itu Indah
Insya Allah Bermanfaat..
Jumat, 26 September 2014
Rabu, 14 Mei 2014
KEGUNAAN DAN DAMPAK UNSUR/SENYAWA BAGI MANUSIA DAN LINGKUNGAN
KEGUNAAN DAN DAMPAK UNSUR/SENYAWA
BAGI MANUSIA DAN LINGKUNGAN
v KEGUNAAN UNSUR/SENYAWA
BAGI MANUSIA DAN LINGKUNGAN
Alkali
Ø Litium (Li) untuk campuran logam serta memisahkan
oksigen dan nitrogen.
Ø Uap natrium untuk lampu penerangan jalan raya.
Ø Natrium cair untuk pendingin pada reaktor nuklir.
Ø Kalium (K) dan sesium (Cs) untuk fotosel.
Ø Karnalit (KCl.MgCl2.6H2O)
digunakan sebagai pupuk.
Ø NaOH (soda kaustik) digunakan dalam pembuatan sabun,
detergen, tekstil, kertas, pewarnaan, dan menghilangkan belerang dari minyak
bumi.
Ø NaHCO3, dikenal sebagai soda kue, banyak
digunakan orang dalam pembuatan kue.
Alkali
Tanah
Ø Kalsium(Ca) diperlukan oleh makhluk hidup untuk
pembuatan tulang, gigi, dan kulit (cangkang).
Ø Magnesium (Mg) penting dalam klorofil, berperan
sebagai katalis pada fotosintesis pengubahan CO2 dan H2O
membentuk gula.
Ø Dalam bentuk garamnya, strontium (Sr) dan barium (Ba)
digunakan untuk kembang api.
Ø Aliase berilium (Be) dan tembaga (Cu) digunakan untuk
membuat alat-alat industri.
Ø Berilium oksida titik lelehnya tinggi (2.670 oC)
sehingga digunakan untuk isolator listrik pada temperatur tinggi.
Aluminium
Ø Alat-alat dapur, mobil, pesawat terbang dan tutup kaleng.
Ø Aluminium merupakan konduktor listrik yang baik
sehingga digunakan untuk membuat kawat listrik.
Ø Untuk aliase: duralumin, magnalium, dan alnico.
Ø Alum atau tawas digunakan untuk mengendapkan kotoran
pada pembersihan air.
Ø Zeolit atau permutit (Na2O.Al2O.2SiO2O)
digunakan untuk melunakkan air sadah.
Fosfor
Ø Fosforus penting untuk kehidupan, terutama dalam
metabolisme tumbuhan dan binatang.
Ø Kurang lebih 60% tulang dan gigi adalah Ca3(PO4)2
atau [3(Ca3(PO4)2).CaF2] dan
rata-rata orang mengandung 3,5 kg
kalsium fosfat dalam tubuhnya.
Ø Batuan fosfat digunakan sebagai bahan baku pembuatan
pupuk fosfat.
Ø Fosforus juga digunakan untuk kembang api. Pada saat
terbakar di udara, fosforus dapat memberikan awan yang bercahaya putih.
Karbon
Ø Unsur penting penyusun protein, karbohidrat, dan lemak
Ø Karbon dioksida (CO2) penting dalam
fotosintesis, produksi pupuk urea, pembuatan softdrink, es kering (CO2
padat) untuk pendingin, dan bahan pemadam api.
Ø Grafit untuk pembuatan elektrode, baja, pensil,
pengecoran logam, dan sebagai pelumas.
Ø Karbon aktif untuk pemurnian dan penghilangan warna
gula dan bahan kimia yang lain, mengabsorpsi gas beracun dalam masker gas, dan untuk katalis beberapa reaksi.
Nitrogen
Bahan
pupuk, bahan peledak, untuk mengisolasi sistem dari kontak udara, dan
pendingin.
Oksigen
Ø Untuk respirasi bagi manusia, hewan, dan tumbuhan.
Ø Pembuatan TiO2 dari TiCl4. TiO2
digunakan sebagai zat pewarna putih pada cat dan kertas serta sebagai bahan pengisi pada plastik.
Ø Oksidasi NH3 dalam industri HNO3.
Ø Industri etilena oksida (axirane) dari etena.
Ø Sebagai oksidan dalam roket.
Ø Di rumah sakit untuk membantu pernapasan.
Ø Untuk pernapasan penyelam di laut.
Ø Untuk aerasi pengolahan limbah industri.
Belerang
Belerang
terutama digunakan untuk membuat asam sulfat. Asam sulfat banyak digunakan
untuk membuat pupuk fosfat dan amonium fosfat. Asam sulfat juga digunakan dalam
refining minyak bumi, industri baja, aki, dan reaksi-reaksi kimia yang
terlibat dalam industri cat, plastik, zat-zat yang mudah meledak, dan
obat-obatan.
Silikon
Silikon
banyak digunakan terutama yang berhubungan dengan elektronika, seperti mikrokomputer
dan kalkulator. Silikon sangat murni digunakan untuk membuat chip komputer
Besi
Ø Pembawa oksigen dalam darah mamalia, burung, dan ikan
(hemoglobin).
Ø Penyimpan oksigen dalam jaringan otot (mioglobin).
Ø Pembawa elektron dalam tumbuhan, hewan, dan bakteri (cytochromes),
serta untuk transfer elektron
dalam tumbuhan dan bakteri (feredoksin).
Ø Pembuatan baja
Kromium
Ø Penyepuhan (elektroplating).
Ø Aliase (paduan logam), misalnya nikrom (15% Cr, 60%
Ni, dan 25% Fe).
Ø Stainless steel mengandung 72% Fe, 19% Cr, dan 9% Ni.
Ø Campuran baja agar ulet dan kuat.
Ø Pelapis logam untuk melindungi terjadinya korosi dan
memberikan tampilan yang berkilau.
Ø Kromium sebagai dikromat (Cr2O72–)
atau kromat (CrO42–) digunakan secara luas sebagai zat
oksidator.
Tembaga (Cu)
Untuk
kawat penghantar listrik, pipa air karena tidak reaktif, aliase (misalnya
perunggu), fungisida, dan herbisida.
Nikel (Ni)
Untuk
pembuatan aliase. Nikel memperbaiki kekuatan baja dan daya tahannya terhadap
reaksi kimia.
Kobalt (Co)
Ø Pembuatan aliase dengan baja pada temperatur tinggi.
Aliase ini penting untuk pembuatan mesin-mesin pembangkit gas dan baja yang
berkecepatan tinggi seperti mesin bubut.
Ø Pembuatan pewarna keramik, gelas, dan industri cat.
Titanium (Ti)
dan Vanadium (V)
Ø Logam Ti dan aliasenya dengan Al digunakan dalam
industri pesawat terbang.
Ø V2O5 digunakan sebagai katalis
pada pengubahan SO2 menjadi SO3 dalam proses kontak pembuatan
H2SO4.
Seng
Ø Untuk melapisi besi agar tercegah dari perkaratan.
Ø Untuk aliase (brass merupakan aliase Cu–Zn
mengandung 20%– 50% Zn).
Ø Sebagai elektrode negatif pada sel Leclance, sel
merkurium, dan sel alkali.
Ø Sebagai bahan pewarna putih pada cat (ZnO).
v DAMPAK UNSUR/SENYAWA
BAGI MANUSIA DAN LINGKUNGAN
1.
Dampak gas mulia
Unsur gas mulia, misalnya radon. Radon merupakan sumber
radiasi alam yang menimbulkan efek negatif karena sifat gas radon sebagai salah
satu penyebab munculnya kanker paru-paru.
2.
Dampak halogen
unsur halogen, misalnya fluorin. Adanya komponen fluorin
dalam air minum melebihi 2 ppm dapat menimbulkan lapisan kehitaman pada gigi.
3.
Dampak alkali
Unsur logam alkali, misalnya rubidium (Rb). Rubidium mudah
bereaksi dengan kelembaban kulit untuk membentuk rubidium hedroxid, yang
menyebabkan luka bakar dari mata dan kulit.
4.
Dampak alkali tanah
Unsur alkali tanah, misalnya barium (Ba).bahaya barium bagi
kesehatan manusia yaitu dalam bentuk serbuk, mudah terbakar pada temperatur
ruang. Dalam jangka panjang, dapat menyebabkan naiknya tekanan darah dan
terganggunya system saraf.
5.
Dampak aluminium
Terlalu banyak asupan aluminium dapat memberikan efek
negative yang dapat merusak otak (menyebabkan Alzheimer), menyebabkan kerusakan
DNA,disfungsi ginjal, serta diduga dapat memicu kanker payudara.
6.
Dampak karbon
Gas karbon monoksida(CO) dalam jumlah banyak (konsentrasi
tinggi) dapat menyebabkan gangguan kesehatan bahkan juga dapat menimbulkan
kematian.
7.
Dampak silikon
Silikon memiliki dampak, baik positif maupun negatif.
Namun,seringkali dampak negatif yang
dirasakan oleh para wanita yang bagian tubuhnya di silicon. Adapun dampak
negatifnya yaitu :
- Reaksi
yang timbul dapat berupa alergi
- Menyebabkan
penyumbatan pada pembuluh darah
- Menimbulkan
rasa sakit yang berkepanjangan
- Kulit
memerah
- Kanker
- Beresiko
pada ginjal
- Dapat
menyebabkan kematian
8.
Dampak belerang
Belerang bersifat mudah terbakar dan menghasilkan gas
belerang dioksida (SO2). Gas ini dapat menyesakan pernapasan dan
menyebabkan batuk. Dalam jumlah besar, belerang dioksida dapat merusak
pernapasan dan menimbulkan radang tenggorokan serta kerusakan paru-paru, bahkan
dapat menyebabkan kematian.
9.
Dampak krom
Krom dapat menyebabkan kanker paru-paru, kerusakan hati
(liver), dan ginjal. Jika kontak dengan kulit menyebabkan iritasi dan jika
tertelan dapat menyebabkan sakit perut dan muntah.
10.
Dampak tembaga
Batas maksimum logam tembaga dalam air adalah 1 bpj. Air
yang mengandung tembaga dengan kadar yang melebihi batas maksimum yang
diperbolehkan dapat menimbulkan dampak berupa kerongkongan terasa kering,
mual-mual, diare yang terus-menerus, dan iritasi pada lambung.
11. Dampak seng
a)
Jika kekurangan zat ini dalam tubuh, dapat menyebabkan
kecepatan pertumbuhan menurun, nafsu makan dan masukan makanan menurun, gangguan sistem kekebalan tubuh, perlambatan
pematangan seksual dan impotensi.
b) Dosis konsumsi seng (Zn) sebanyak 2
gram atau lebih dapat menyebabkan muntah, diare, demam, kelelahan yang sangat,
anemia, dan gangguan reproduksi. Suplemen seng bisa menyebabkan keracunan,
begitupun makanan yang asam dan disimpan dalam kaleng yang dilapisi.
12. Dampak besi
Selain mempunyai banyak manfaat,
besi juga dapat membahayakan manusia jika besi tersebut udah berkarat, misalnya
saat kita tertusuk besi yang berkarat, maka ada kemungkinan kita akan terkena
tetanus. Zat besi juga dapat membahayakan tubuh dan menyebabkan keracunan jika
dikonsumsi terlalu banyak.
13. Dampak oksigen
Kadar oksigen yang rendah dalam
tubuh dapat menyebabkan masalah kesehatan utama seperti kejang, tidak sadar,
dan akhirnya dapat menyebabkan kematian jika tidak diobati pada waktunya.
14. Dampak nitrogen
Pencemaran udara oleh gas nitrogen
oksida (NOx) dapat menyebabkan timbulnya Peroxy Acetil Nitrates
(PAN). PAN ini menyababkan iritasi pada mata yang menyebabkan mata terasa pedih
dan berair. Campuran PAN bersama senyawa kimia lainnya yang ada di udara dapat
menyebabkan terjadinya kanut foto kimia atau photo chemistry Smog yang sangat
mengganggu lingkungan.
"adventure in chemistry world ": makalah kimia lingkungan Tanah
"adventure in chemistry world ": makalah kimia lingkungan Tanah: BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kita semua tahu Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Salah satu ...
Berbagi itu Indah: MAKALAH KESLING: VEKTOR TUNGAU (MITES)
Berbagi itu Indah: MAKALAH KESLING: VEKTOR TUNGAU (MITES): BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Serangga dan tungau / akarina kalau diperhatikan ternyata paling banyak berasosiasi d...
MAKALAH KESLING: VEKTOR TUNGAU (MITES)
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Serangga dan tungau / akarina kalau diperhatikan
ternyata paling banyak berasosiasi dengan kehidupan manusia, dan berbagai usaha
telah dilakukan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Hal ini disebabkan oleh
adanya keragaman genetik yang dimiliki oleh serangga dan tungau, sehingga dapat
beradaptasi pada berbagai habitat alamiah maupun habitat buatan yang
dikembangkan oleh manusia. Sejak jaman dahulu manusia telah bersaing dengan
Arthropoda dalam mendapatkan makanan, ternyata manusia tidak selalu menang.
Tungau yang dalam bahasa Inggris disebut mites atau
ticks, merupakan salah satu hama yang mempunyai arti ekonomi yang cukup
penting. Tungau / akarina sangat melimpah dan terjadi pada beberapa habitat
yang dapat hidup pada berbagai jenis tanaman, bahan yang disimpan, dalam tanah,
bahkan pada tubuh manusia atau hewan.
Diberbagai belahan dunia, laporan kasus scabies yang
disebabkan oleh serangga tungau ini sering ditemukan pada keadaan lingkungan
yang padat penduduk, status ekonomi yang rendah, tingkat pendidikan yang rendah
dan kualitas higienis pribadi yang kurang baik atau cenderung jelek. Sehingga
sangat berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat.
Oleh sebab itu, makalah ini kami buat untuk lebih
mendalami avertebrata khususnya serangga. Serangga dalam hal ini yaitu tungau
(mites).
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana
morfologi vector tungau?
2.
Bagaimana
bionomic vector tungau?
3.
Bagaimana
habitat vector tungau?
4.
Apa saja
penyakit yang disebabkan oleh vector tungau dan mekanisme penularannya?
5.
Bagaimana
pengendalian vector tungau?
C.
TUJUAN
Untuk
mengetahui:
1.
Bagaimana
morfologi vector tungau.
2.
Bagaimana
bionomic vector tungau.
3.
Bagaimana
habitat vector tungau.
4.
Apa saja
penyakit yang disebabkan oleh vector tungau dan mekanisme penularannya.
5.
Bagaimana
pengendalian vector tungau.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
Tungau (Mites) adalah arachnida yang memiliki suatu
gnathosoma (suatu kapitulum anterior mulut) yang mudah dibedakan dari arachnida
lain, karena tidak adanya pembagian yang jelas antara cephalothorax (prosoma)
dan perut (opisthosoma).Tungau merupakan hewan bertubuh kecil sampai
mikroskopis dan umumnya berukuran 1 mm atau kurang.
Tungau merupakan spesies yang melimpah diperkirakan
terdiri atas 20.000 spesies dengan memiliki habitat antara lain tanah, humus,
air tawar, air laut, dan tumbuhan, serta bersifat parasit pada hewan dan
tanaman. Beberapa dari mereka memakan tumbuhan dan hewan yang masih hidup
maupun yang sudah mati, sedangkan yang lain menghisap cairan tumbuhan. Selain
itu beberapa dari mereka memiliki kebiasaan berada di kulit, darah atau
jaringan dari vertebrata darat.
Tungau merupakan sekelompok hewan kecil bertungkai
delapan yang, bersama-sama dengan caplak, menjadi anggota superordo Acarina.
Tungau bukanlah kutu dalam pengertian ilmu hewan walaupun sama-sama berukuran
kecil (sehingga beberapa orang menganggap keduanya sama). Apabila kutu sejati
merupakan anggota Insecta (serangga), tungau lebih berdekatan dengan laba-laba
dilihat dari kekerabatannya.
Tabel 2.1. Perbedaan antara tungau dan caplak.
|
Perbedaan
Umum
CAPLAK
& TUNGAU
|
|
|
CAPLAK
|
TUNGAU
|
|
· Ukurannya besar (makroskopis)
· Tubuhnya tertutup rambut pendek
· Hipostomanya menonjol dan bergigi
· Tektur tubuh tampak keras (kecuali caplak
lunak)
|
· Umumnya berukuran kecil (mikroskopis)
· Tubuhnya tertutup rambut panjang
· Hipostomanya agak tersembunyi dan tak
bersenjata
· Tektur tubuhnya nampak membranosa
|


(a) (b)
Gambar 2.1. (a)
Mites (Tungau); (b) Caplak
B.
MORFOLOGI MITES
Tungau merupakan binatang yang berukuran sangat kecil,
yakni 250-300 mikron berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya
rata. Tungau memiliki ciri umum memiliki tubuh tersegmentasi dengan segmen
disusun dalam dua tagmata: sebuah prosoma (cephalothorax) dan opisthosoma
(perut). Namun, hanya jejak-jejak samar segmentasi utama tetap di tungau,
sedangkan prosoma dan opisthosoma menyatu.
Tungau dewasa memiliki empat pasang kaki, seperti
arachnida lain, tetapi beberapa memiliki kaki lebih sedikit. Beberapa tungau
parasit hanya memiliki satu atau tiga pasang kaki dalam tahap dewasa. Tungau
dewasa dengan hanya tiga pasang kaki dapat disebut 'larviform'.
Tungau bernapas melalui tracheae, stigmata (lubang
kecil pada kulit), usus dan kulit. Kebanyakan tungau tidak memiliki mata. Mata
pusat arachnida selalu hilang, atau mereka menyatu menjadi satu mata.Panjang
tungau dewasa hanya 0,3-0,4 milimeter. Tungau memiliki tubuh semitransparan
memanjang yang terdiri dari dua segmen menyatu. Tungau memiliki delapan
kakipendek, kaki yang tersegmentasi melekat pada segmen tubuh pertama. Tubuh
ditutupi dengan sisik untuk penahan dirinya dalam folikel rambut, dan tungau
memiliki pin (seperti mulut) yaitu bagian untuk makan sel-sel kulit dan minyak
(sebum) yang menumpuk di folikel rambut. Tungau dapat meninggalkan folikel
rambut dan perlahan-lahan berjalan-jalan pada kulit, dengan kecepatan 8-16 mm
per jam, terutama pada malam hari, ketika mereka mencoba untuk menghindari
cahaya.


Gambar. 2.2. Morfologi Mites
(Tungau)
Keterangan:
a.
Gnatosoma
Gnatosoma
terletak di bagian anterior tubuh merupakan
alat mulut yang terdiri atas kelisera dan pedipalpi. Pada gnatosoma
terdapat stigmata, peritrema dan alat sensori. Stigmata dan peritrema berfungsi
sebagai alat pernapasan. Kelisera berfungsi sebagai alat untuk menusuk,
menghisap dan mengunyah sedang pedipalpi berfungsi sebagai alat bantu makan.
b.
Kapitulum
Gnatosoma
merupakan bagian dari kapitulum
c.
Podosoma
Terdapat empat pasang tungkai yang terletak pada
podosoma.
d.
Opistosoma
Opistosoma
merupakan bagian posterior dari tubuh tungau yang terdiri dari organ sekresi
dan organ genital.
e.
Idiosoma
Idiosoma
pada tungau adalah podosoma dan opistosoma yang menyatu.
· T1,
T2, T3, T4 = tungkai ke-1 hingga ke-4
C.
BIONOMI MITES
Tungau termasuk dalam filum Arthropoda, sub filum
Chelicerata, kelas Arachnida, dan ordo Acarina. Acarina berasal dari bahasa
Yunani, yaitu akari yang berarti tungau. Kebanyakan tungau yang menyerang
tanaman umumnya berukuran sangat kecil, panjangnya 0,2 – 0,8 mm sehingga sulit
dilihat dengan mata. Tubuhnya tidak mempunyai segmen sehingga menyerupai
kantong, dan hanya pada bagian mulut yang menonjol mejadi satu dengan badannya.
Adapun klasifikasi tungau/mites yaitu:
Kingdom
: Animalia
Phylum : Arthropoda
Kelas : Arachanida
Ordo : Acarinida
Famili : Demodicidae,
Psorergatidae, Tydeidae, dll
Genus :
Demodex, Psorergates, Tydeus, dll
Spesies :
Demodexbrevis, Psorergatesovis, Tydeusmolestus, dll
1.
Demodex brevis
Demodex brevis
merupakan salah satu bagian dari Famili Demodicidae. Demodex brevis merupakan tungau wajah yang menimpa manusia,
biasanya ditemukan dalam kelenjar sebaceous dari tubuh manusia. Dalam kondisi
normal mereka tidak berbahaya, dan diklasifikasikan sebagai commensals (tidak
ada kerugian atau keuntungan ke host) dibandingkan dikatakan sebagai parasit
(di mana tuan rumah yang dirugikan), meskipun dalam kondisi wabah (demodicosis)
mereka bisa berbahaya.

Gambar
2.3. Demodex brevis
Brevis demodex biasanya ditemukan pada
manusia. D. brevis tinggal di kelenjar
sebaceous terhubung ke folikel rambut. Dapatditemukan di wajah, dekat hidung,
bulu mata dan alis, dan juga terdapat di tempat lain pada tubuh.
Tungau demodex jantan dan betina
memiliki pembukaan genital, dan pembuahan internal. Perkawinan berlangsung di
pembukaan folikel, dan telur diletakkan di dalam folikel rambut atau kelenjar
sebaceous. Larva tungau menetas setelah tiga sampai empat hari, dan larva
berkembang menjadi dewasa dalam waktu sekitar tujuh hari. Umur total tungau
demodex adalah beberapa minggu. Tungau mati membusuk di dalam folikel rambut
atau kelenjar sebaceous. Penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa penyakit
kulit yang umum rosacea dapat disebabkan oleh tungau membusuk.Infestasi pada
manusia disebut demodicosis atau demodex (radang kelopak mata).
2.
Dermatophagoides pteronyssinus
Dermatophagoides
pteronyssinus (tungau debu rumah /TDR) adalah tungau
debu rumahyang berukuran 0,2 – 1,2 mm, badannya berbulu dan berkaki 4 pasang(dewasa).
TDR termasuk ordo acari, mengalami
metamorfosis tidak sempurna dan ditemukan pada debu rumah terutama di tempat
tidur (sprei, kasur, bantal), karpet, lantai dan juga ditemukan di luar rumah,
misalnya pada sarang burung, permukaan kulit mamalia dan binatang lainnya.
Makanannya adalah serpihan kulit (skuama) manusia / binatang.
Tungau merupakan komponen alergenik
utama dari debu rumah. Bagian TDR yang mengandung alergen adalah kutikula,
organ seks dan saluran cerna. Selain bagian badan, feses TDR juga mempunyai
sifat antigenik. Antigen yang berasal dari tubuh TDR masuk ke dalam tubuh
manusia melalui penetrasi kulit, sedangkan yang berasal dari feses masuk ke
dalam tubuh manusia melalui inhalasi. Tungau ini diketahui sebagai pemicu serangan asma dan gejala-gejala alergi di seluruh dunia. Penyebabnya adalah enzim-enzim (terutama
protease) yang keluar dari perut bersama-sama kotorannya. Tungau debu merupakan
alergen hirup sebagai faktor pencetus timbulnya penyakit alergi seperti
dermatitis atopik, asma bronkial dan rinitis.

Gambar 2.4. Dermatophagoides
pteronyssinus
3.
Sarcoptes
scabei
Sarcoptes
scabiei adalah
tungau yang termasuk famili Sarcoptidae, ordo Acari kelas Arachnida. Badannya
transparan, berbentuk oval, pungggungnya cembung, perutnya rata, dan tidak
bermata. Ukurannya,yang betina antara 300-450 mikron x 250-350 mikron,
sedangkan yang jantan lebih kecil, antara 200-240 mikron x 150-200
mikron. Bentuk dewasa tungau ini memiliki 4 pasang kaki, 2 pasang
merupakan pasangan kaki depan dan 2 pasang lainnya kaki belakang. Pasangan kaki
yang pertama berakhir sebagai tabung panjang masing-masing dengan sebuah alat
penghisap berbentuk bel dan dengan kuku. Kaki belakang berakhir menjadi bulu
keras yang panjang kecuali pasangan kaki ke-4 pada jantan yang mempunyai alat
penghisap. Pada permukaan sebelah dorsal terdapat garis-garis yang berjalan
transversal yang mempunyai duri, sisik, dan bulu keras. Bagian mulutnya terdiri
atas selisera yang bergigi, pdipalpi berbentuk kerucut yang bersegmen tiga dan
palp bibir yang menjadi satu dengan hipostoma.
Tungau
membuat terowongan pada bagian permukaan kulit tubuh pada lekukan lutut dan
siku berada diantara sela – sela jari dan pergelangan tangan serta pada daerah
sekitar puting payudara wanita dan penis serta kantung zakar pada laki – laki
dan di pantat bagian bawah.
Tungau
penyebab penyakit scabies ini distribusinya hampir di seluruh penjuru dunia
namun kebanyakan di beberapa negara berkembang dimana prevalensi skabies
sekitar 6% - 27% populasi umum dan cenderung tinggi pada anak serta orang
dewasa. Di Indonesia banyak menyebar di kampung – kampung yang padat penduduknya,
di rumah penjara, asrama, dan panti asuhan yang kurang terjaga kebersihannya.
Terjadi juga pada satu keluarga atau tetangga yang berdekatan. Infestasi
dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan keadaan demografis serta
ekologisnya.

Gambar
2.5. Siklus hidup Sarcoptes scabiei
Siklus
hidup Sarcoptes scabiei dari telur hingga dewasa berlangsung selama satu
bulan. Sarcoptes scabei memiliki empat fase kehidupan yaitu telur, larva
nimfa dan dewasa. Berikut ini siklus hidup Sarcoptes scabiei :
· Betina bertelur pada interval 2-3
hari setelah menembus kulit.
· Telur berbentuk oval dengan panjang
0,1-0,15 mm
· Masa inkubasi selama 3-8 hari.
Setelah telur menetas, terbentuk larva yang kemudian bermigrasi ke stratum
korneum untuk membuat lubang molting pouches. Stadium larva memiliki 3
pasang kaki.
· Stadium larva terjadi selama 2-3
hari. Setelah stadium larva berakhir, terbentuklah nimfa yang memiliki 4 pasang
kaki.
· Bentuk ini berubah menjadi nimfa
yang lebih besar sebelum berubah menjadi dewasa. Larva dan nimfa banyak
ditemukan di molting pouches atau di folikel rambut dan bentuknya
seperti tungau dewasa tapi ukurannya lebih kecil. Perkawinanterjadi antara
tungau jantan dengan tungau betina dewasa.
· Tungau betina memperluas molting
pouches untuk menyimpan telurnya. Tungau betina mempenetrasi kulit dan
menghabiskan waktu sekitar 2 bulan di lubang pada permukaan.

Gambar 2.6.
Sarcoptes scabiei
Tungau pada famili ini melakukan metamarfose tidak
sempurna sehingga larva, nimfa dan imago memiliki bentuk yang sama, dibedakan
pada jumlah kaki dan kelengkapan alat kelamin. Tubuhnya dibagi atas kapitulum,
thorax, dan abdomen yang pembagiannya tidak begitu jelas serta batas – batas
segmen yang tidak jelas. Tungai scabies betina membuat liang yang panjang dalam
kulit dan mereka meletakkan 40 – 50 telur dalam liang. Larva dan nimfa
berkembang dan membuat liang dalam kulit. Siklus hidup mencapai 1 – 3 minggu
tergantung dari kondisi lingkungan. Tungau ini dapat menimbulkan penyakit
skabies pada anak – anak dan orang dewasa.
4.
Pyemotes herfsi
Pyemotes herfsi, juga dikenal sebagai
kutu daun oak empedu atau tungau gatal, adalah tungau ectoparasitic
diidentifikasi di pusat Eropa pada tahun 1936 dan kemudian ditemukan di India,
Australia, dan Amerika Serikat. Tungau yang nyaris tak terlihat, berukuran
sekitar 0,2 mm, potensi besar reproduksi mereka, ukuran kecil, dan kapasitas
tinggi untuk penyebaran oleh angin membuat mereka sulit untuk mengontrol diri.
Siklus hidup tungau ini diawali dengan
perkawinan tungau baru dan tungau betina lalukemudian menyuntikkan air liur
neurotoksin ke dalamhost, yang melumpuhkan tuan rumah dan memungkinkan tungau
betina hamil dan memakan Hemolimf host. Bagian posterior (opisthosoma) membesar
sebagai tempat berkembangnya anak tungau, dan dalam beberapa hari, hingga 250
tungau dewasa menetas dari tungau betina.
Gambar 2.7.
Pyemotes herfsi
Bruce dan Wrensch (1990) menemukan bahwa
keturunan dari tungau gatal jerami rata-rata 254 anak yang 92% adalah
perempuan. Pria muncul sebelum perempuan, memposisikan diri di sekitar
pembukaan genital ibu, dan kawin dengan perempuan yang muncul. Kemudian, betina
dikawinkan untuk menemukan host baru. Tungau ini sering tersebar oleh angin,
dan ketika mereka mendarat di vertebrata host, mereka mencoba untuk makan
dengan menggigit. Sebuah siklus hidup dapat diselesaikan dalam waktu tujuh
hari, dan munculnya keturunan dapat diperpanjang sampai 15 hari.
Gambar 2.8.
bekas gigitan Pyemotes herfsi pada kulit
P. herfsi telah ditemukan di
Cekoslovakia, Mesir, Australia, India utara, dan Amerika Serikat.Tungau ini
menimbulkan gigitan pada manusia, menyebabkan merah, gatal, dan bercak
menyakitkan (bekas).
5.
Acarus siro
Acarus siro merupakan salah satu anggota dari Famili
Acaridae. Tubuh berwarna agak kemerah – merahan / merah muda, tungkai mempunyai
kuku pada bagian ujung. Tungkai depan lebih besar dibandingkan dengan tungkai
belakang dan mempunyai duri yang tebal pada bagian ventral.
Tungau betina dapat menghasilkan 500 – 800 telur
selama hidupnya. Telur menetas menjadi nimfa. Bentuk nimfa dapat mengalami
bentuk yang disebut hypopus (bentuk yang tidak bergerak) dan sangat resisten
terhadap kekeringan. Bentuk hypopus tahan terhadap insektisida. Siklus
hiduponya berlangsung 17 hari. Tungau ini biasa hidup di gudang – gudang
penyimpanan tepung dan biji – bijian. Acarus siro dapat menyebabkan dermatitis
dan alergi.

Gambar 2.9.
Acarus siro
6.
Tydeus molestus
Tydeus molestus merupakan
salah satu anggota dari Famili Tydeidae. Tydeidae hidup di tanah, humus,
sampah, lumut, jamur, rumput, di pohon (di kulit, pada daun dan buah-buahan),
jerami dan jerami, dalam produk yang disimpan, dan sarang burung, mamalia, dan
lebah stingless (Meliponini). Tungau
yang bersifat kosmopolit, dapat bersifat sebagai predator, pemakan tumbuhan,
tetapi dapat juga mengganggu ketentraman manusia. Tydeus molestus, dapat menyerang manusia dan hewan, dan
menyebabkan iritasi pada permukaan kulit.

Gambar 2.10. Tydeus molestus
7.
Trombiculidae
scutellaris
Trombiculidae scutellaris merupakan salah satu
anggota dari Famili Trombiculidae. Jenis tungau ini penting dari segi
kedokteran. Larva Trombiculidae yang disebut chigger mite dapat menyerang berbagai jenis vertebrata. Bentuk
larva hampir bulat, tungau dewasa berukuran panjang sekitar 1 mm. Dermatis yang
disebabkan oleh tungau chigger disebut
trombidiosis dan merupakan gejala
yang sering terdapat pada manusia. T.
scutellaris dapat menjadi vektor demam tsutsugamushi atau scrub typhus (tifus semak).

Gambar 2.11. Trombiculidae scutellaris
D.
HABITAT MITES
Banyak diantara anggotanya yang hidup bebas di
daratan, namun ada anggotanya yang menjadi parasit pada hewan lain (mamalia
maupun serangga). Tungau menyukai tempat – tempat yang lembab dan tempat yang
tidak terkena sinar matahari.
Populasi
tungau pada umumnya melimpah pada saat musim kemarau, sedangkan pada musim
penghujan serangan / populasi akan menurun. Hal ini disebabkan pada musim
penghujan, semua stadia (telur, larva, nimfa, maupun imago) yang menempel pada
bagian tanaman terbawa oleh hujan.
E.
SIKLUS HIDUP MITES
Daur hidup tungau ada 4 fase, yaitu : telur→ larva→nimfa →tungau dewasa. Siklus
hidup tungau mulai dari telur sampai dewasa memerlukan waktu selama 8-12 hari.
(Hamzah, 2007)

Gambar 2.12. Siklus hidup mites (tungau)
1. Fase
telur
Pada tungau betina yang dewasa biasanya bertelur
setiap hari. Sehari rata-rata menghasilkan telur 5 butir.
2. Fase larva
Setelah 3-4 hari telur
menetas menjadi larva. Larva tungau hidup dan makan selama 4 hari kemudian
beristirahat selama 24 jam. Selama masa istirahat tersebut terjadi pergantian
kulit (molting) menuju tahap berikutnya.
3. Fase
nimfa
Pada tahap ini bentuk
tungau sudah seperti bentuk dewasanya dengan 4 pasang kaki. Bentuk nimfa
ini terdiri dari dua fase yaitu protonimfa dan deutonimfa. Masing-masing fase
nimfa makan selama 3-5 hari, istirahat , kemudian molting menuju tahap
berikutnya.
4. Fase
tungau dewasa
Tungau dewasa berukuran
± 0,4 mm, berwarna putih-krem atau kecoklatan dan dapat dilihat oleh mata
telanjang atau kaca pembesar. Tungau dewasa dapat hidup dan mencapai umur 2
bulan. Pada tungau dewasa setelah kopulasi (perkawinan) yang
terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup
beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh betina. Tungau betina yang
telah dibuahi mempunyai kemampuan untuk membuat terowongan pada kulit sampai
diperbatasan stratum korneum dan
startum granulosum dengan
kecepatan0,5-5 mm per hari. Di dalam terowongan ini tungau betina akan bertelur
sebanyak 2-3 butir setiap hari. Seekor tungau betina akan bertelur sebanyak 40-
50 butir semasa siklus hidupnya yang berlangsung kurang lebih 30 hari.

Gambar
2.13. Terowongan yang dibuat oleh tungau betina
Makanan
Makanan kesukaan tungau yakni serpihan kulit mati dari
manusia dan hewan. Serpihan ini biasanya tertinggal pada karpet, sofa, pakaian,
kasur dan bantal. Secara tidak sadar setiap orang membuang serpihan kulit mati
kurang lebih 1,5 gram/hari. Jumlah ini cukup untuk dimakan oleh satu juta
tungau debu.
F.
JENIS – JENIS MITES
1.
Famili TARSONEMIDAE
Jenis tungau dari famili ini mempunyai beberapa
variasi biologi, yaitu berbadan lunak dan tidak mempunyai mata. Beberapa
spesiesnya adalah fitofag, pada hal hidupnya pada sampah atau sebagai parasit.
a.
Polyphagotarsonemus ( = Hemitarsonemus ) latus
Banks. atau yellow tea mite
(sin. Tarsonemus translucens Green), tersebar luas dan bersifat polifag.

Gambar 2.14. Polyphagotarsonemus latus a. Telur,
b.Larva (Bagian Lateral),
c. Larva (Bagian Ventral), d. Nimfa Bagian Ventral, e.
Imago Betina, dan f. Imago Jantan
Tungau dapat menyebar pada tanaman inang diantaranya
kapas di Brasil, Uganda, dan Kongo; kacang-kacangan, castor, dan dahlia di
Afrika Selatan; teh di Ceylon dan Jawa serta beberapa tanaman lainnya. Di
Philipina tungau ini menjadi hama pada tanaman muda di green house (yaitu
tomat, kentang, dan tembakau) dan di kebun-kebun bunga. Umumnya gejala
serangan, daun berwarna coklat, daun menebal dan mati pada bagian pucuknya.
Di Indonesia tungau ditemukan pada beberapa tanaman
diantaranya tomat, lombok, karet, dan teh. Tungau ini merupakan hama yang cukup
serius pada tanaman teh dan juga kadang-kadang pada tanaman kopi, sehingga
dapat menyebabkan kerusakan (Kalshoven, 1981).
Tungau ini juga sering ditemukan pada tanaman teh,
yaitu di pucuk diantara bulu-bulu pada sisi bawah daun muda. Akibat serangan
pada daun-daun muda, pucuknya memanjang dan mengalami khlorosis serta
mengeriting. Setelah pemetikan daun teh biasanya tungau tersebar pada suatu
tempat di atas daun-daun muda. Gejala serangan pada tanaman teh serupa dengan
yang disebabkan oleh pink mite (Eriophyes sp.).
b.
Steneotarsonemus (= Tarsonemus) bancrofti Mich.
Tungau ini banyak terdapat di dekat nodes
(tunas-tunas baru) di celah-celah atas poros daun, sedang di bagian tepi tidak
terlihat dengan jelas (Kalshoven, 1981).
Tungau ini menyebabkan kerusakan seperti gall
(pembengkakan), dengan ciri khusus kekuningan dan akhirnya menjadi coklat
kemerahan sampai hitam. Tungau betina berukuran 0,4 mm dan yang jantan
berukuran 0,3 mm. Tungaunya bertungkai 4 pasang dan sangat peka terhadap cahaya
matahari, dan lebih suka menyembunyikan diri di tempat-tempat yang gelap
seperti di bawah daun.
c.
Steneotarsonemus (= Tarsonemus) pallidus Banks., cyclament (sin. Tarsonemus fragariae Zimm.),
strawberry tarsonemid mite.
Tubuh tungau sangat kecil dan sulit dilihat dengan
mata, berwarna putih, hijau, atau coklat keperakan. Tungau ini tercatat sebagai
hama pada strawberry, anggur, dan beberapa tanaman bunga-bungaan. Ditemukan
pertama kali di New York pada tahun 1898 dan di Kanada tahun 1908 serta umumnya
menyebar di green house.
Tungau dewasa panjangnya 0,25 mm yang pada tingkat
pertumbuhan larva berkaki 6 dan tingkat pertumbuhan nimfa berkaki 8. Pasangan
kaki belakang pada tungau betina terdapat seperti benang dan yang jantan seperti
catut (penjapit) (Metcalf dan Flint, 1979). Setiap imago betina menghasilkan
sekitar 90 butir telur, dan 80 persen diantaranya akan berkembang menjadi
tungau betina.
|
|
Gambar 2.15. Steneotarsonemus pallidus (Cyclamen
Mite)
a. Imago Betina, b. Imago Jantan
2.
Famili TETRANYCHIDAE
Famili tungau ini sebagian besar terdiri dari jenis
fitofag, dengan ukuran tubuhnya tidak melebihi 1 mm dan berwarna kuning,
coklat, kehijau-hijauan, atau merah dan mempunyai mata. Jenis tungau ini
bervariasi dengan panjang tubuhnya antara 0,25 – 0,5 mm. Tungau ini aktif
merayap yang dapat diketahui oleh mata kita sebagai bintik merah pada ujung
depan tubuhnya, dan biasanya berlindung pada permukaan daun dengan pelindung
yang baik.
Tingkatan hidup tungau ini terdiri dari telur, larva
(dengan 3 pasang kaki), 2 tingkatan nimfa (protonimfa dan deutonimfa) yang
mempunyai 4 pasang kaki, dan imago. Setiap pergantian kulit didahului dengan
keadaan diam selama 1 atau 2 hari; selama keadaan ini tungau sangat resisten
terhadap pengendalian dengan kimia.
a.
Tetranychus cinnabarinus (Boisduvall), carmine atau
red spider mite.
Jenis tungau ini hampir selalu terdapat di daerah
tropis, dan sebagai hama di green house pada daerah-daerah beriklim sedang.
Jenis tungau ini pertama kali ditemukan di Jawa pada
cassava (ketela pohon) oleh Leefmans pada tahun 1915, bersifat polifag yaitu
terdapat juga pada tanaman–tanaman seperti jeruk, kapas, kacang-kacangan, dan
tanaman hias serta pada tumbuhan pengganggu (gulma).

Gambar 2.16. Tetranychus cinnabarinus
b.
Tetranychus urticae (= telarius, bimaculatus) Koch.,
two spotted mite.
Tungau ini bersifat kosmopolit dan polifag, yang
merupakan hama utama pada buah-buahan (apel dan pepaya), kapas, ketela pohon,
dan lain sebagainya. Di Indonesia juga dijumpai menyerang tanaman kedelai,
walaupun serangannya tidak berat .

Gambar 2.17. Tetranychus urticae
Bentuk tubuh tungau betina oval dengan ukuran 0,3 –
0,35 mm, bahkan perkembang biakan selama musim kemarau dapat mencapai 6
generasi dan kadang-kadang dapat lebih. Pada kelembaban nisbi 60 – 70 persen,
suhu siang hari 28 0C dan suhu malam hari 25 0C, rata-rata jumlah telur setiap
betina dapat mencapai 40 butir.
c.
Oligonychus coffeae (Nietn.), red tea mite.
Tungau ini menyebar di daerah tropis dan tercatat
sebagai hama pada tanaman kopi, teh, kapas, dan tanaman lain. Tungau telah lama
diketahui di Ceylon pada tanaman kopi, akan tetapi sekarang ditemukan pada
lapisan atas daun teh yang tua dan warna daun berubah menjadi coklat kekuningan
berkarat atau berwarna ungu.
Tungau ini tidak tahan terhadap air hujan dan hanya
telur saja yang masih bisa bertahan untuk hidup. Telur berwarna merah terang
berbentuk bola berukuran 0,15 mm. Telur yang menetas kulitnya meluruh sehingga
dapat dilihat dengan mata seperti bintik putih. Imagonya berukuran 0,4 – 0,5 mm
berwarna merah pada bagian anterior dan berwarna terang bagian posteriornya,
serta fase nimfanya berukuran sedikit lebih kecil daripada imagonya.
|
|
Gambar 2.18. Oligonychus coffeae (a) Telur, (b)
Imago
Tungau pada fase sebelum dewasa memerlukan waktu 2
minggu pada suhu 21 – 22 0C, dan masa sebelum peletakan telur 1 – 2 hari.
Siklus hidupnya sekitar 3 minggu pada ketinggian 1.350 m. Imago betina dapat
menghasilkan 40 – 50 butir telur.
d.
Olygonychus ilicis McGregor
Merupakan hama kopi di Sao Paulo dan Brasil. Tungau
ini hidup pada lapisan atas daun dengan pelindung dari tenunan yang kuat, dan
menyebabkan daun menguning khususnya disekitar urat daun. Penyebaran tungau
dari daun ke daun melalui benang atau terbawa oleh adanya angin (Le Pelley,
1968).
Tungau betina bertelur 10 – 24 butir, masa bertelur
6 – 10 hari pada suhu 22,5 0C. Lama hidup imago betina sekitar 15 hari dan masa
sebelum peletakan telur 3 hari. Telur yang dihasilkan oleh tungau betina
steril, hanya akan menghasilkan imago jantan. Hasil pencatatan di lapang
ternyata sekitar 80 persen dari telur yang dibuahi, akan menghasilkan imago
betina.
e.
Olygonychus exiccator (Zehnt.)
Adalah tungau pada daun tebu di Jawa dan Hawaii.
Tungau ini membentuk koloni pada daun sebelah bawah yang berwarna kuning
kehijauan dengan sedikit bintik merah. Daun yang terserang menjadi layu,
selanjutnya kering dan akhirnya mati sebelum tua; akan tetapi kerusakan ini
terbatas pada pucuk ke dua dan tidak merugikan, dan tungau dapat berkembang
dengan cepat sekitar 10 hari.
f.
Brevipalpus (= Tenuipalpus) phoenicis (Geijsk.) atau
Brevipalpus obovatus (Donn.), scarlet tea mite.
Tungau betina bentuknya oval, warnanya
kemerah-merahan dan ukuran tubuhnya sekitar 0,25 x 0,12 mm; sedangkan tungau
jantan bentuknya trianguler dan lebih kecil daripada betina. Telur berbentuk
elips berwarna kemerahan dan diletakkan secara tunggal atau mengelompok di
bawah lapisan daun.
Tungau ini hidupnya polifag yaitu pada kopi, apel,
mangga, jeruk, pepaya, ketela pohon, dan lain sebagainya.
|
|
|
Gambar 2.19. Brevipalpus obovatus
a. Telur, b. Imago Betina, c. Imago
Jantan
g.
Tenuipalpus orchidarum Parf. (sin. Brevipalpus
pereger Donn)
Tungau merah pada bunga anggrek. Tungaunya berukuran
sangat kecil hanya 0,2 mm dan ditemukan pada daun. Perkembangan tungau ini
sangat cepat, sehingga dalam waktu singkat dapat menyebabkan kerusakan yang
berat. Telur berwarna merah, memanjang (empat persegi panjang) yang diletakkan
pada sisi atas. Kerusakan dapat meluas baik pada tanaman maupun pembibitan.
h.
Panonychus (= Metatetranychus) ulmi Koch. (sin.
Paratetranychus pilosus), european red mite.
Hama menyebar di Benua Eropa, dan pertama kali
ditemukan di Amerika Serikat pada tahun 1911. Tungau ini menjadi salah satu
hama penting di Canada dan Amerika Serikat yang menyerang tanaman apel dan
peer. Bentuk tungau amat kecil dan aktif biasanya berada di bagian bawah daun,
apabila serangan ringan daun akan berbintik dan pada serangan berat daun yang
sakit berwarna kecoklatan dan dalam waktu singkat akan terlihat tertutup oleh
debu dan daun gugur.
|
|
|
|
|
|
Gambar 2.20. Siklus Hidup
Panonychus (= Metatetranychus) a. Telur, b. Larva, c.Protonimfa, d. Deutonimfa,
e. Imago Jantan, dan f.Imago Betina bagian lateral
3.
Famili ERIOPHYIDAE
Jenis-jenis
tungau famili ini bentuknya memanjang dan hanya mempunyai 2 (dua) pasang kaki
pada bagian anterior tubuhnya, serta tungau ini dapat mengakibatkan timbulnya
gall pada daun dan batang. Bentuk telur menyerupai gelembung yang transparan
dan penyebaran tungaunya melalui angin.
a. Calacarus (= Eriophyes) carinatus
(Gr.).
Tungau
ini menjadi hama tanaman teh di pantai timur Sumatra dan juga terjadi di Jawa.
Spesies tungau ini pertama kali menyebar di India, dan akibat serangan tungau
ini dapat menyebabkan tanaman berwarna ungu, dan daun tertutup dengan tepung
halus diantara jaringan. Imagonya kecil dengan ukuran 0,15 – 0,20 mm dan
berwarna ungu gelap. Pembibitan tanaman teh pada musim kemarau kadangkala
terserang oleh hama ini.

Gambar 2.21. Calacarus
carinatus
b. Eriophyes boisi Gerb. (= doctersi
Nal.)
Adalah
tungau yang menyebabkan gall pada tanaman kina. Ukuran badannya hanay 0,12 –
0,14 mm. Daun muda yang baru membukua kadang-kadang terserang sehingga berwarna
kuning keunguan.
|
|
|
Gambar
2.22. Eriophyes sp. dan Gejala Serangan Tungau
a.
Eriophyes boisi, b. Gall pada Daun akibat Serangan Tungau,
c.
Eriophyes indigoferae
c. Eriophyes ( = Acaphylla ) theae
Watt., pink tea mite.
Tungau
ini ditemukan di Indonesia dan India sebagai hama pada tanaman teh. Tanaman the
yang masih muda sering mendapat serangan, dan gejala pertama kali kelihatan
pada daun berwarna keputihan dan akhirnya menjadi kering. Walaupun demikian
tungau ini ternyata merupakan hama yang kurang penting.

Gambar 2.23. Eriophyes
theae
4.
Famili
PHYTOSEIIDAE
Tungau
pada famili ini merupakan jenis tungau yang hidupnya sebagai predator,
khususnya pemangsa famili Tetranychidae; sehingga dapat digunakan dalam usaha
pengendalian pada sejumlah tungau yang merusak buah-buahan dan sayur-sayuran
yang ada di green house maupun di lapang.
Tungau famili
Phytoseiidae sering berkembangbiak dengan cepat, dan akan mati apabila
kekurangan makanan. Jenis tungau yang sangat memberikan harapan untuk usaha
pengendalian secara hayati yaitu Phytoseiulus persimilis, akan tetapi spesies
ini belum digunakan di Indonesia.


Gambar 2.24. Phytoseiulus persimilis
Jenis
tungau pada famili ini selain memangsa semua tungau yang merugikan tanaman,
juga memangsa binatang-binatang kecil lainnya seperti Thrip, telur-telur
ngengat dan lain sebagainya. Spesies lainnya yang berperan sebagai predator
adalah Typhlodromus luvea Oud. dan Typhlodromus luvearum Oud. yang telah
ditemukan pada tungau-tungau yang menyerang tanaman karet, bunga tanaman kelapa
dan juga pada koloni rayap serta sekitar telur-telur belalang.
5.
Famili
ACARISIDAE (TYROGLYPHIDAE)
Tungau
ini hidup pada bahan simpanan dan sampah, umumnya bertubuh lunak, licin,
berkaki pendek, berwarna putih atau abu-abu dan tidak begitu aktif. Pada
keadaan yang tidak menguntungkan akan istirahat, dan dapat hidup dalam waktu
yang cukup lama tanpa makan.
Penyebaran
tungau dilakukan dengan beberapa cara diantaranya dengan melalui hewan lain.
Jenis-jenis tungau ini sering ditemukan pada biji dan beberapa bahan simpanan
diantaranya bungkil, daging kering atau ikan, keju bahan fermentasi, jerami dan
lain sebagainya. Beberapa bahan makanan yang terserang tidak dapat dimakan,
bahkan mengganggu bahan simpanan yang disimpan terlalu lama (misalnya kopra).
6.
Famili
PYEMOTIDIAE (PEDICULOIDIDAE)
Pyemotes (= Pediculoides )
ventricosus Newp., adalah tungau yang bersifat predator
kosmopolit pada seranga gudang. Tungau ini juga hidup di lapang, menyerang
serangga yang hidup pada tempat - tempat persembunyiannya.
Imago
betina yang masih muda berukuran 0,2 mm dan jantan 0,15 mm, menyerang
binatang-binatang yang berbadan lunak dan membunuhnya dalam waktu 24 jam dengan
cara menghisap cairan tubuh. Penyebarannya melalui angin atau terbawa oleh
binatang dan juga dapat terbawa dengan bahan makanan.
Imago
muda muncul dalam waktu 6 – 14 hari, kemudian kawin dan yang jantan mencari
mangsa. Tungau ini dapat menyerang hampir 100 persen larva dan pupa
Promecotheca cumingii pada musim kering, tetapi tidak menyerang imago.
Berkembangbiaknya sangat cepat sekitar 10 hari pada kondisi kering.
7.
Famili
PSEUDOLEPTIDAE
Pseudoleptus
vandergooti Oud., orange orchid mite. Tanaman yang terserang menunjukkan warna
gelap pada daun dan batang. Tungau umumnya berukuran 0,3 mm, hidupnya berkoloni
di bawah kulit daun yang mati menggulung. Tanaman anggrek jenis Dendrobium spp.
sangat disukai sehingga mudah terserang.
G.
MEKANISME
PENULARAN PENYAKIT
1.
Pada
Manusia
a.
Scabies
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan
oleh tungau (mite) Sarcoptes scabei, yang termasuk dalam kelas Arachnida.
Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop atau
bersifat mikroskopis.

Gambar 2.25 Penderita
penyakit scabies
Skabies
dapat menyebabkan gatal-gatal hebat yang biasanya semakin memburuk pada malam
hari. Lubang tungau tampak sebagai garis bergelombang dengan panjang sampai 2,5
cm, kadang pada ujungnya terdapat beruntusan kecil. Lubang atau terowongan
tungau dan gatal-gatal paling sering ditemukan dan dirasakan di sela-sela jari
tangan, pada pergelangan tangan, siku, ketiak, disekitar putting payudara
wanita, alat kelamin pria (penis dan kantung zakar), di sepanjang garis ikat
pinggang dan bokong bagian bawah. Infeksi jarang mengenai wajah, kecuali pada
anak-anak yaitu lesinya muncul sebagai lepuhan berisi air. Lama-lama terowongan
ini sulit untuk dilihat karena tertutup oleh peradangan yang terjadi akibat
penggarukan.

Gambar
2.26. Peradangan yang disebabkan scabies
Penyakit Scabies sering disebut kutu badan.
Penyakit ini juga mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia
dan sebaliknya. Scabies mudah menyebar baik secara langsung melalui sentuhan
langsung dengan penderitamaupun secara tak langsung melalui baju, seprai,
handuk, bantal, air, atau sisir yang pernah digunakan penderita dan belum
dibersihkan dan masih terdapat tungau Sarcoptesnya. Skabies identik dengan
penyakit anak pondok.
b.
Asma
bronkial
Penyakit
Asma terdiri dari beberapa jenis asma namun kebanyakan orang awam lebih
mengenal asma pada jenis bronkial karena memang jenis asma inilah yang paling
banyak penderitanya. Asma bronkial sendiri merupakan asma (sesak nafas) yang
muncul akibat penyempitan saluran pernafasan.Salah satu penyebabnya adalah
Dermatophagoides pteronyssinus (tungau debu rumah).
Penyakit asma bronkial ini
merupakan salah satu penyakit kronik(menahun) dengan pasien
terbanyak di dunia. diperkirakan 300 juta orang di dunia menderita asma jenis
ini. Angka ini akan jauh lebih besar jika kriteria diagnosanya diperlonggar.
Bahkan tahun ini paling tidak ada tambahan sekitar 100 juta pasien asma lagi.
Di Indonesia, diperkirakan sampai 10 persen penduduk (sekitar 12 juta orang )
mengidap dalam berbagai jenis penyakit asma
c.
Demodicosis
Demodicosis
disebabkan oleh Demodex brevis. Orang
tua lebih rentan untuk terkena tungau. Sekitar sepertiga dari anak-anak dan
remaja, setengah dari orang dewasa, dan dua-pertiga dari orang tua diperkirakan
membawa tungau.

Gambar. 2.27.
Penyakit Demodicosis
Tingkat
intensitas tungau untuk menyerang lebih rendah anak-anak disebabkan karena
anak-anak memproduksi sebum lebih sedikit. Tungau ditransfer antara host
melalui kontak rambut, alis dan kelenjar sebaceous pada hidung.
d.
Tifus
Semak (schrub typhus)
Tifus
semak adalah jenis penyakit yang ditularkan ke manusia dari tikus ladang dan
tikus besar (rat) melalui gigitan tungau yang hidup pada hewan – hewan
tersebut. Tifus ini disebabkan oleh Rickettsia tsutsugamushi yang hidup dalam
Leptotrombidium akamushi (berasal dari Famili Trombiculidae). Hanya bentuk
larva yang dapat menularkan penyakit. Larva tungau (chigger) melekatkan tubuh mereka ke permukaan kulit dalam proses
untuk mendapatkan makanan. Tungau ini dapat menginfeksi inang atau menularkan
riketsia ke mamalia lain atau tubuh manusia.
Tifus
ini sering disebut penyakit tsutsugamushi atau tifus tropis karena hanya terbatas
di daerah tropis Asia Tenggara, India, Australia Utara dan pulau – pulau di
sekitarnya. Infeksi disebut tifus semak karena penyakit ini biasanya terjadi
sesudah orang mengunjungi semak. Namun telah ditemukan juga bahwa penyakit ini
dapat terjadi juga di area – area seperti pantai berpasir, hutan hujan di
katulistiwa.
e.
Rosacea
Penyebab
dari rosacea adalah Demodex follicularum,
yang merupakan jenis tungau rumah. Tungau rumah adalah
relatif mikroskopis yang biasanya berada di kulit sehat dan feed pada sebum,
minyak disekresikan oleh kulit. Hal ini biasanya melihat pertama di bawah bulu
mata. Seseorang dengan tungau bawah mata mereka menderita dari mata terbakar,
mata lengket dan gatal. Tungau mikroskopis juga tinggal pada wajah, pipi, dahi,
pada saluran telinga eksternal dan di mana saja pada anjing.

Gambar 2.28. Penderita
rosacea
2.
Pada
Tumbuhan
Brevipalpus californicus
· Spesies
: Brevipalpus californicus (Acarina: Tenuipalpidae)
· Nama
Umum : red and black flat mites
· Inang
: Pepaya
· Gejala
: Buah pepaya yang diserang kulitnya menjadi tidak mulus, cacat seperti
bergabus, dan berwarna agak kecoklatan.
· Deskripsi
: Ukuran tunggau relatif kecil 0,3 mm. - Tungau jantan berwarna merah dan
berbentuk baji pipih. - Tungau betina berbentuk oval pipih dan berwarna merah
atau merah kehitam-hitaman sampai hitam. - Selama hidupnya berlangsung sekitar
30 hari - Seekor betina bertelur antara 50-70 butir. Telur berwarna merah muda
sampai kemerahan - Stadia telur sampai dewasa berkisar antara 3-5 minggu. - Pada
musim panas, stadia tungau berlangsung lebih cepat antara 3-5 minggu, dan musim
hujan berlangsung selama 4-5 minggu.
Polyphagotarsonemus
latus
· Spesies
: Polyphagotarsonemus latus (Acarina: Tarsonematidae)
· Inang
: Cabai
· Gejala
: Permukaan daun bergelombang dan terdapat variasi perubahan warna daun yang
tidak merata.
· Deskripsi
: Siklus hidup terdiri dari empat stadia yaitu telur, larva, nimfa, imago. Dan
perkembangannya sangat singkat.Imago betina meletakkan telur antara 30-76
butir, pada permukaan daun selama 8-13 hari. Betina yang tidak kawin akan
menghasilkan keturunan jantan semua, sedangkan betina yang kawin akan
menghasilkan 4 telur betina dan 1 telur jantan. Telur tidak berwarna, bening,
berbentuk elips tipis. Telur diletakkan satu per satu. Larva akan menetas 2-3
hari. Larva berukuran sangat kecil antara 0,1-0,2 mm berbentuk seperti buah
pear dan memiliki 3 pasang tungkai. Fase pupa, tungau akan istirahat, bentuknya
tidak berbeda dengan fase larva hanya tungkainya menjadi 4 pasang. Imago betina
berukuran sekitar 0,2 mm dan tidak berornamen. Ukuran tubuh betina lebih besar
dari pada jantan.
· Pengendalian
: Membersihkan gulma disekitar tanaman. Disemprot dengan akarisida seprti
Kelthan, Acarin, Galecron, Gusathon dll.
Polyphagotarsonemus latus
· Spesies : Polyphagotarsonemus latus (Acarina:
Tarsonematidae)
· Inang
: Tomat
· Gejala
: Permukaan daun bergelombang dan terdapat variasi perubahan warna daun yang
tidak merata.
· Deskrip
: Siklus hidup terdiri dari empat stadia yaitu telur, larva, nimfa, imago. Dan
perkembangannya sangat singkat.Imago betina meletakkan telur antara 30-76
butir, pada permukaan daun selama 8-13 hari. Betina yang tidak kawin akan
menghasilkan keturunan jantan semua, sedangkan betina yang kawin akan
menghasilkan 4 telur betina dan 1 telur jantan. Telur tidak berwarna, bening,
berbentuk elips tipis. Telur diletakkan satu per satu. Larva akan menetas 2-3
hari. Larva berukuran sangat kecil antara 0,1-0,2 mm berbentuk seperti buah
pear dan memiliki 3 pasang tungkai. Fase pupa, tungau akan istirahat, bentuknya
tidak berbeda dengan fase larva hanya tungkainya menjadi 4 pasang. Imago betina
berukuran sekitar 0,2 mm dan tidak berornamen. Ukuran tubuh betina lebih besar
dari pada jantan.
· Pengendalian : Membersihkan gulma disekitar tanaman.
Disemprot dengan akarisida seprti Kelthan, Acarin, Galecron, Gusathon dll.
H.
PENGENDALIAN
Beberapa
usaha pengendalian yang dapat dilakukan untuk menghidari terjadinya peningkatan
populasi tungau, diantaranya dengan cara mekanis, teknik budidaya, biologis,
dan penggunaan bahan kimia (pestisida).
1. Mekanis
Pengendalian
tungau yang seringkali dilakukan dengan cara mekanis yaitu, mengambil secara
langsung telur, larva, nimfa, atau imago kemudian dimusnahkan; dapat juga
dengan menyemprotkan air beberapa kali sehingga tungau tercuci.
2. Teknik
Budidaya
Pengendalian
dengan teknik budidaya dapat dilakukan dengan menggunakan tanaman atau varietas
yang resisten (tahan), rotasi (pergiliran) tanaman, pemupukan, dan sanitasi
lingkungan. Pemakaian varietas resisten terhadap serangan tungau belum banyak
dilakukan. Hal ini disebabkan karena belum banyak para ahli yang menelitinya,
lebih-lebih di negara kita ini.
Di
Mesir telah ditemukan varietas kapas yang tahan terhadap serangan tungau
Tetranychus telarius yaitu Rahtim-101. Varietas ini memiliki bulu yang lebat
dan bercabang sehingga menyulitkan stilet (alat mulut) tungau tersebut untuk
menusuknya. Varietas ubi kayu Adira 4, Adira 1, Adira 2, Malang 2, dan Malang 6
adalah tahan terhadap tungau merah ubi kayu (Sinuraya, 2005).
Pemupukan
tanaman dapat dilakukan dengan tujuan untuk mengusahakan agar pertumbuhan
tanaman menjadi lebih baik, sehingga diperoleh hasil yang cukup tinggi; akan
tetapi apabila jenis dan dosisnya kurang tepat maka dapat memberikan dampak
sebaliknya. Sebagai contoh pada pemupukan N yang berlebihan pada tanaman kacang
tanah, ternyata dapat meningkatkan serangan tungau Tetranychus telarius lebih
tinggi.
Sanitasi
merupakan tindakan yang cukup penting, khususnya terhadap tanaman yang telah
mendapat serangan tungau berat. Pada tanaman yang terserang berat, apabila
telah dipanen sebaiknya dibersihkan dari sisa-sisa bagian tanaman yang menjadi
tempat persembunyian tungau.
Pengaturan
pergiliran tanaman merupakan salah satu cara usaha pengendalian yang baik
terhadap serangan tungau. Pada rotasi tanaman yang perlu diperhatikan adalah
agar dalam penanaman berikutnya tidak menanam tanaman yang sama atau tanaman
yang sedang menjadi inang bagi tungau saat itu. Selain itu diusahakan menanam
tepat waktu, misalnya menanam ubi kayu pada lahan kering hendaknya diusahakan
pada saat awal musim hujan.
3. Biologis
(Hayati)
Usaha
pengendalian biologis dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami, namun
demikian di lapang masih belum / bahkan kurang mendapat perhatian pada
pengendalian serangan tungau. Penggunaan musuh alami ini akan dapat membantu
pelestarian lingkungan (alam sekitarnya), bahkan dapat menghindari terjadinya
resistensi (kekebalan) tungau terhadap bahan pengendali kimiawi (pestisida).
Pada
suatu percobaan di dalam green house (rumah kaca) menggunakan tungau Tarsonemus
pallidus sebagai hama tanaman strawberry dengan menggunakan predator
Typhlodromus bellinus, ternyata menunjukkan adanya goncangan-goncangan populasi
yang teratur antara kedua populasi tersebut.
Apabila
populasi hama tinggi maka predator akan aktif, akan tetapi apabila populasi
mangsa (hama) rendah maka hama tersebut relatif lebih aman sebab terdapat
pelindung yang cukup pada bulu-bulu, duri-duri, maupun lekukan-lekukan tanaman
inang; sedangkan predator akan bertahan pada embun-embun madu dan substitusi
makanan lainnya, sambil menunggu meningkatnya populasi mangsa (Metcalf dan
Flint, 1979).
4. Bahan Kimia (Pestisida)
Pengendalian
tungau dengan menggunakan pestisida (akarisida) hendaknya dilakukan, bilamana
usaha-usaha pengendalian yang lainnya sudah tidak mungkin dapat dilakukan.
Tidak
semua pemakaian bahan kimia dalam menekan populasi hama akan berakibat lebih
baik dalam menurunkan populasinya, bahkan hama tersebut bisa menjadi resisten.
Selain itu tanpa memperhatikan keselamatan lingkungan akan dapat meningkatkan
populasi hama yang kurang mendapat perhatian, juga secara langsung kemungkinan
dapat mematikan serangga-serangga berguna sebagai akibat penggunaan pestisida.
Akibat secara tidak langsung menyebabkan adanya bahaya kelaparan serangga
berguna (musuh alami), sebagai akibat sangat berkurangnya mangsa sebagai
makanannya.
Di
dalam kebun-kebuin yang tidak terpelihara ternyata populasi tungau hama
Paratetranychus sp. tetap rendah, karena predator-predator sepanjang musim
panas terus menerus aktif, sedangkan dalam kebun-kebun yang terpelihara baik
ternyata jumlah predator sangat berkurang, sebagai akibat penyemprotan dengan
pestisida (Collyer dalam Hadiwidjaja, 1955).
Beberapa
akibat buruk penggunaan DDT (Dikhloro diphenyl trikhlor etana) pada waktu yang
lalu, ternyata dapat mematikan beberapa musuh alami dalam menekan populasi
tungau. Pada percobaan di Bogor ternyata semua daun tanaman kapas gugur akibat
gangguan tungau sesudah penyemprotan dengan DDT yang berulang-ulang. Percobaan
lain menunjukkan bahwa serangan tungau lebih hebat pada kapas dalam pertengahan
musim hujan, sebagai akibat dari percobaan DDT setiap minggu sehingga berakibat
tanaman-tanaman gugur daunnya.
Pada
pohon apel di Selandia Baru ternyata serangan tungau Paratetranychus pilosus
dan Bryobia praetiosa lebih berat akibat terbunuhnya predator. Demikian juga
naiknya populasi tungau Paratetranychus citri disebabkan terbunuhnya predator
Stethorus picvipes Csy., Conwentzia hageni Banks., dan Chrysopa californica
Coq.
Pada
waktu lalu penggunaan sulfur yang digunakan secara langsung di atasnya, juga
ditempatkan dalam tanah pada pengendalian tungau ternyata cukup efektif.
Beberapa produk pestisida ternyata efektif apabila pertama kali dipakai, akan
tetapi gejala resistensi telah berkembang pesat dan sering mengalami kesulitan
untuk menemukan akarisida atau kombinasi yang efektif.
Akarisida
berasal dari nama latin, yaitu acari yang berarti tungau dan coedos yang
berarti membunuh. Akarisida dalam bahasa Inggris disebut mitecide, adalah bahan
yang mengandung senyawa kimia beracun dan dapat mematikan tungau. Insektisida
biasanya ada yang berfungsi ganda yaitu sebagai pembunuh serangga dan tungau.
Akarisida yang pertama kali digunakan terhadap tungau fitofag adalah Azobenzine
yang digunakan dalam green house. Perkembangan selanjutnya dihasilkan
Sulphenone, Diphenysulphone, dan Tetradifon. Sulphide dihasilkan pada tahun
1953 dengan nama Chlorbeside, dan Fluorbenside dihasilkan pada tahun 1955;
selanjutnya dihasilkan Chlorfenson dan Fenson, juga efektif terhadap beberapa
tungau.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1. Morfologi
mites:
a. Gnatosoma
b. Kapitulum
c. Podosoma
d. Opistosoma
e. Idiosoma
f. Tungkai
2. Bionomi
mites:
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Kelas : Arachanida
Ordo : Acarinida
Famili : Demodicidae, Psorergatidae, Tydeidae, dll
Genus : Demodex, Psorergates, Tydeus, dll
Spesies : Demodexbrevis,
Psorergatesovis, Tydeusmolestus, dll
3. Habitat
mites:
Banyak diantara
anggotanya yang hidup bebas di daratan, namun ada anggotanya yang menjadi
parasit pada hewan lain (mamalia maupun serangga). Tungau menyukai tempat –
tempat yang lembab dan tempat yang tidak terkena sinar matahari.
4. Penyakit
yang disebabkan oleh vector mites
·
Scabies
·
Asma bronkial
·
Tifus Semak (schrub typhus)
·
Demodicosis
·
Rosacea
5. Pengendalian
vector mites diantaranya dengan cara mekanis, teknik budidaya, biologis, dan
penggunaan bahan kimia (pestisida).
B.
SARAN
Kepada seluruh masyarakat dan para mahasiswa
diharapkan menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan lebih baik lagi sehingga
kondisi kesehatan dapat tercipta dengan baik. Selain itu, diharapkan agar
tungau (mites) ini dapat didalami lebih lanjut dengan melakukan penelitian
sehingga kita dapat mengetahui cara mencegah serta mengobati penyakit akibat
serangga tungau ini.
DAFTAR PUSTAKA
Darwanto, dkk. 2001. Atlas Parasitologi
Kedokteran. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Hama dan Penyakit pada Tanaman, http://riyanbagus.blogspot.com/2011/05/hama-dan-penyakit-tanaman.html. Diunduh pada tanggal 4 Mei 2014.
Jenis-jenis Tungau, http://digilib.upnjatim.ac.id/files/disk1/2/jiptupn-gdl-mochsodiqp-52-7-v.jenis-u.pdf. Diunduh pada tanggal 4 Mei 2014.
Makalah tentang tungau, http://digilib.upnjatim.ac.id/files/disk1/2/jiptupn-gdl-mochsodiqp-52-6-iv.peng-n.pdf. Diunduh pada tanggal 4 Mei 2014.
Morfologi Tungau.http://repository.ipb.ac.id. Diunduh pada tanggal 4 Mei 2014.
Vektor pengganggu, http://juanna-kesling.blogspot.com/2011/05/vektor-binatang-pengganggu.html. Diunduh pada tanggal 4 Mei 2014.
Langganan:
Postingan (Atom)

